Sawai, Surga Tersembunyi Pulau Seram
Menginap di atas rumah panggung beralaskan laut, snorkling, dan memanjat pohon setinggi 45 meter.
Snorkling di Hatu Supung, Sawai. (Reynold Sumayku/NGI).
Mendengar kata Pulau Seram di Maluku Tengah,
yang terpikir pertama kali mungkin 'ada apa di sana?'. Selain nama
pulaunya yang cukup 'seram', ingatan kerusuhan Ambon menjadi
kekhawatiran berikutnya. Namun, saat kami mendarat di Bandara Pattimura,
Ambon, kerisauan itu sirna. Ambon tidak pernah mengecewakan dalam hal
pesona alamnya yang rancak.
Belum habis mengagumi alam Ambon, kami harus segera menuju Pelabuhan
Tulehu untuk menuju ke Pulau Seram. Lokasi utama pendaratan kami: Sawai.
Surga kecil yang berada di utara Seram. Dengan menempuh perjalanan bak
Indiana Jones karena harus berganti perahu cepat, mobil minibus, dan
perahu nelayan, dengan total durasi sekitar empat jam, akhirnya kami
sampai di Horale. Desa ini menjadi daratan terakhir yang kami injak
sebelum menuju Sawai.
Suasana di depan Penginapan Lisar, Sawai. (Andre Sitanala).
Saya sudah tidak peduli dengan bisingnya suara perahu nelayan kecil
itu. Saya sudah terlalu sibuk mengagumi rentangan bukit yang berbaris
memandu kami menuju Sawai. Warna air laut yang bergradasi sempurna,
mulai dari putih hingga biru gelap, menjadi "alas" berikutnya.Hanya 30
menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Sawai, desa nelayan kecil yang
didekap rimbunnya Bukit Sawai. Kami bermalam di Penginapan Lisar milik
Pak Ali dan istrinya, Salwa.
Besoknya, kami isi dengan snorkling di Hatu Supung (batu yang licin,
gundul, dalam bahasa lokal). Jika dilihat sekilas, lokasi ini mirip Ha
Long Bay yang ada di Vietnam. Hanya saja jika di Ha Long Bay berbentuk
batu raksasa yang berdiri sendiri, Hatu Supung masih bersatu dengan
bukit sekitarnya. Snorkling di sini seperti melihat ke dalam kaca karena
beningnya air yang ada. Koral berbagai warna juga berkumpul di sini.
Tapi hati-hati, bagi Anda yang kurang pandai berenang, jangan sampai
terbawa ke perairan dalam yang hanya berjarak lima meter dari bibir
pantai.
Kegiatan berikutnya melongok Pulau Raja atau yang disebut Pulau
Marsegu (kelelawar) oleh warga sekitar. Tadinya ini adalah pulau yang
digunakan oleh raja dan keluargnya untuk perkebunan. Tapi sekarang sudah
beralih fungsi jadi lahan konservasi mangrove dan habitat kelelawar
yang ada di dalamnya.
Namun, yang menjadi objek wisata kami
adalah Morite Forest Canopy Platform. Wisata menaiki pohon kayu besi
setinggi 45 meter dari atas tanah di hutan Morite. Untuk menuju pohon
yang dituju, kami harus melakukan perjalanan darat sekitar 45 menit yang
terbagi di jalan aspal dan jalan hutan.
Wisata Morite Forest Canopy Platform. (Zika Zakiya/NGI).
Sesampainya di kaki pohon besi, para pemandu lokal yang berjumlah delapan orang menyiapkan peralatan standar untuk
Single Rope Techniques
(SRT). Masing-masing dari kami akan ditarik ke atas pohon untuk
selanjutnya bersantai di platform yang dibangun dengan biaya Rp20 juta
itu. Di atas sini, kami bisa melihat Taman Nasional Manusela, melihat
burung mata merah, betet kelapa, burung kakak tua, bahkan melihat burung
rangkong secara sekilas.
Diam sesaat di atas
platform, menikmati alam, dan mengingat
kembali kegiatan kami hari itu. rasanya memang pantas jika Sawai disebut
sebagai surga tersembunyi-nya Pulau Seram.